4 PESAN RASULULLAH DI PADANG ARAFAH...

EMPAT PESAN RASULULLAH DI PADANG ARAFAH...

Di Padang Arafah ayat Al-Quran terakhir diturunkan. Allah SWT berfirman, “Pada hari ini telah Aku sempurnakan Agama untuk kalian dan telah Aku cukupkan ni’mat-Ku kepada kalian, dan telah Aku redhai Islam sebagai Agama kalian” (QS Al Ma’idah 3).

Rasulullah SAW berkhutbah sebelum menunaikan shalat Dzuhur dan Ashar jama qashar taqdim. Khutbah inilah yang dikenal dengan Khutbah Wada (khutbah terakhir), kerana disampaikan saat beliau berhaji terakhir (hijjatul wada’). Sabda Nabi “Ambillah dariku cara kalian bermanasik haji, mungkin sehabis tahun ini aku tidak akan menunaikan ibadah haji lagi” (HR Muslim).

Karena itu, Wukuf di Padang Arafah sebagai rukun haji pun merupakan kegiatan ibadah yang penting bahkan dapat disebut terpenting dalam rangkaian ibadah haji. Sah tidaknya berhaji ditentukan oleh berwukuf tidaknya ia di Arafah. Bagi mereka yang sedang sakit pun selama masih ada nafas, disarankan dibawa ke tempat ini.

Khutbah Rasulullah SAW begitu menggetarkan kalbu Kaum Muslimin ketika itu. Beliau berkhutbah dengan penuh kesungguhan dan memohon perhatian yang sangat besar dari jama’ah yang hadir. Sepertinya Rasulullah SAW ingin memberi wasiat terakhir yang amat penting, sehingga begitu penting di akhir khutbah Rasul mengangkat telunjuknya ke langit dan menunjuk orang banyak “Allahummasyhad... Allahummasyhad...Allahummasyhad..!” (Ya Allah saksikanlah! Ya Allah saksikanlah! Ya Allah saksikanlah!).

Setidaknya, terdapat empat hal penting yang disampaikan Rasulullah SAW di Khutbah Wada, yaitu:

Pertama, “Inna dimaa-a-kum wa amwaalakum haroomun ‘alaikum” (Sungguh darahmu dan hartamu haram atasmu sekalian). Ini adalah amanah untuk menjaga persaudaraan. Yakni larangan menumpahkan darah, menyakiti, dan mengambil harta dengan cara yang zalim atas sesama Muslim.Kita diwajibkan untuk saling menjaga kehormatan dan kewibawaan sesama Mukmin, sebab Mu’min adalah cermin dari Mukmin yang lain.

Kedua, “Wa ribaal jaahiliyyati maudhu’un” (Dan riba jahiliyah itu terlarang). Riba adalah perbuatan dosa dan memakan dari hasil riba adalah sama dengan memakan duri di neraka. Rasulullah telah meletakkan dasar-dasar mualalat Islam atau ekonomi Islam yang halal, bebas dari riba, judi dan gharar (penipuan). Meminjamkan wang bukan dengan motif ingin pengembalian yang lebih banyak, tapi dengan semangat untuk menolong orang yang mengalami kesulitan.

Ketiga, “Fattaquullaha fien nisaa-i fainnakum akhodztumuhunna biamaanillah” (Jaga dan bertakwalah kepada Allah dalam hal perempuan, sesungguhnya engkau mengambilnya dengan amanah Allah). Sungguh mulia baginda Rasulullah hingga beliau memberi amanah untuk menjaga dan menghormati isteri (perempuan). Rasul menyerukan penanaman konsep takwa dalam membangun kebahagiaan dan kesejahteraan keluarga. Menjaga badan dan hatinya karena Allah. Dan, sikap suami kepada isteri akan menjadi bukti mulia atau hinanya seorang suami. Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah memuliakan isterinya selain orang mulia, tidaklah menghinakannya selain dia orang yang hina.” Ini bererti, kekokohan bahtera rumah tangga harus dibangun dengan asas ketakwaan.

Keempat, “Wa qad taraktu fiikum maa lan tadhilluu ba’dahu in i’tashomtum bihi kitaaballahi” (Dan sesungguhnya aku tinggalkan kepadamu yang jika berpegang padanya tak akan sesat selama-lamanya, Kitabullah). Al-Quran adalah warisan Allah ‘tsuma awrotsnal kitaab’ yang menjadi kitab keselamatan hidup di dunia dan akhirat. Al-Quran harus menjadi landasan utama dan pedoman hidup manusia agar bisa selamat dunia dan akhirat.

Sungguh, peringatan dan amanah Rasulullah SAW 14 abad yang lalu itu masih terdengar hingga sekarang.

Semoga bermanfaaat!

Post a Comment